About Me

Foto saya
Welcome to my blog everyone ♥ I'm a floccinaucinihilipilification But, there's the story began, and being real was me at all

Jumat, 01 Mei 2015

TUGAS 2 IBD - SUKU LOM

Suku Lom



Suku Lom adalah suku unik yang tinggal wilayah Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Suku Lom sering disebut juga sebagai suku Mapur, karena awalnya sebagian besar anggota suku tinggal di dusun Mapur. suku Lom disebut-sebut sebagai salahsatu komunitas yang masih kuat memegang kemurnian tradisi.
Kemurnian tradisi suku Lom selama ini juga dibumbui berbagai mitos, misteri, atau legenda yang menakutkan sehingga sebagian masyarakat enggan menyinggahi kawasan itu.Seorang peneliti dari Norwegia yang pernah tinggal selama beberapa tahun di tengah suku Lom, Olaf H Smedal, menulis buku yang menarik, Orang Lom: Preliminary Findings on a Non-Muslim Malay Group in Indonesia (1988). Menurut Smedal, terdapat catatan anonim berangka tahun 1862 yang menceritakan dua legenda asal-usul Suku Lom. Kedua legenda itu masih hidup di tengah suku Lom hingga sekarang.
Salah satu legenda menceritakan, sekitar abad ke-14 Masehi, sebuah kapal yang ditumpangi sekelompok orang dari daerah Vietnam terdampar dan rusak di pantai Tanjung Tuing, Kecamatan Belinyu. Semua penumpang tewas, kecuali dua lelaki dan satu perempuan.
Ketiga orang asing itu membuat perkampungan tersendiri di daerah Gunung Pelawan, Belinyu. Legenda lain mengisahkan, suku Lom merupakan keturunan pasangan lelaki dan perempuan yang muncul secara misterius dari Bukit Semidang di Belinyu setelah banjir besar surut.
Ketua Lembaga Adat Provinsi Bangka Belitung Suhaimi Sulaiman memperkirakan, suku Lom merupakan keturunan dari bangsawan Majapahit di Mojokerto, Jawa Timur, yang lari karena tidak mau memeluk Islam, sekitar abad ke-16 Masehi. Kaum pelarian itu menyeberangi laut untuk mencari penghidupan baru dan terdampar di Tanjung Tuing.
Mereka masuk ke pedalaman di daerah Gunung Muda dan membuat perkampungan di tengah hutan yang tersembunyi. Karakter sebagai pelarian membuat suku itu hidup dengan menutup diri dari dunia luar. Suku Lom sering juga disebut sebagai suku Mapur karena tinggal di dekat daerah Mapur.
Lepas dari semua perkiraan itu, sebagian besar masyarakat Kepulauan Bangka Belitung yakin, suku Lom merupakan suku tertua di daerah tersebut. Budayawan muda yang tinggal di PangkalPinang, Willy Siswanto, memperhitungkan, suku Lom berasal dari komunitas Vietnam yang mendarat dan menetap di daerah Gunung Muda, Belinyu, sekitar abad ke-5 Masehi. Jadi, suku itu telah ada jauh sebelum Kerajaan Sriwijaya yang berkembang abad ke-7 Masehi dan kuli kontrak timah dari China berdatangan sekitar abad ke-18 Masehi.
Orang-orang Lom merupakan komunitas yang pertama kali mendiami daerah Bangka Belitung. Tidak ada catatan sejarah yang menceritakan suku lain sebelum suku Lom. Spekulasi lain yang banyak dibicarakan adalah misteri Bubung Tujuh yang berarti tujuh rumah tertua di suku Lom. Masyarakat setempat percaya bahwa terdapat tujuh keluarga yang merupakan keturunan pertama dari nenek moyang suku. Setelah ayah-ibunya meninggal, ketujuh keluarga itu membuat rumah sendiri sebanyak tujuh rumah di kaki bukit di tengah hutan. Rumah itu berbentuk rumah panggung yang tinggi dengan atap daun nipah.
Beberapa kalangan percaya, Bubung Tujuh sering menampakkan diri pada orang-orang tertentu pada malam tertentu. Mitos itu begitu menggoda sehingga masyarakat yang mengunjungi suku Lom sering penasaran dan selalu menanyakan misteri ini. Namun, bagi suku Lom sendiri, Bubung Tujuh sudah jadi mitos yang terlalu dibesar-besarkan.
Di Bangka Belitung terdapat suatu komunitas masyarakat yang disebut sebagai penduduk asli yang dikenal sebagai suku Lom atau urang Lom. Suku Lom ini disebut juga sebagai urang Mapur atau suku Mapur, karena tinggal di kampung Mapur. Wilayah pemukiman suku Lom ini berada di dusun Air Abik dan dusun Pejam, yang masih termasuk bagian wilayah desa Gunung Muda, kampung Mapur kecamatan Belinyu kabupaten Bangka provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Masyarakat suku Lom saat ini mencapai 139 KK.
Asal-usul suku Lom merupakan misteri bagi masyarakat lain yang berada di wilayah tersebut. Berbagai spekulasi berkembang karena suku Lom tidak memiliki catatan tertulis apapun tentang akar sejarah mereka.
Satu-satunya yang bisa dijadikan pegangan tentang asal-usul suku Lom adalah berdasarkan cerita yang dituturkan secara lisan dari generasi ke generasi. Kelengkapan cerita lisan ini semakin lama semakin tidak lengkap, karena seiring meninggalnya tokoh-tokoh tua dan minimnya tokoh muda yang tertarik untuk menyerap cerita itu secara lengkap.
Menurut dugaan bahwa suku Lom ini adalah termasuk salah satu suku tertua di Sumatra (Proto Malayan) dan tertua di Bangka Belitung. Suku Lom telah lama hidup di wilayah Vietnam sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Karena di wilayah mereka dahulu sering terjadi konflik dan serbuan dari prajurit Han, maka mereka bermigrasi menyeberang laut, mendarat dan menetap di daerah Gunung Muda, Belinyu, sekitar abad ke-5 Masehi.
Menurut Olaf H Smedal, seorang peneliti dari Norwegia, dalam bukunya "Preliminary Findings on a Non-Muslim Malay Group in Indonesia (1988)", terdapat catatan anonim berangka tahun 1862 yang menceritakan dua cerita asal-usul Suku Lom.
Salah satu cerita menceritakan, sekitar abad ke-14 Masehi, sebuah kapal yang ditumpangi sekelompok orang dari daerah Vietnam terdampar dan rusak di pantai Tanjung Tuing kecamatan Belinyu. Semua penumpang tewas, hanya tiga orang yang selamat, yaitu 2 laki-laki dan 1 perempuan. Ketiga orang ini menetap dan membuat perkampungan di daerah Gunung Pelawan, Belinyu.
Cerita lain mengisahkan, suku Lom merupakan keturunan pasangan lelaki dan perempuan yang muncul secara misterius dari Bukit Semidang di Belinyu setelah banjir besar surut.
Sedangkan dari cerita turun temurun pada masyarakat suku Lom, bahwa dahulunya mereka berasal dari seorang tokoh sakti yang bernama Anta, yang menurunkan suku Lom sebagai keturunannya. Hanya tidak diketahui asal usul tokoh sakti bernama Anta tersebut.
Suku Lom masih banyak yang belum memeluk agama. Karena mereka belum beragama, maka di kartu tanda pengenal (KTP) mereka sering dibiarkan kosong pada kolom agama. Hanya saja oleh aparat desa sering dicantumkan sebagai agama Islam.
Saat ini ada beberapa orang masyarakat suku Lom yang telah memeluk agama, yaitu terdiri dari 62 orang telah memeluk agama Islam, 13 orang memeluk agama Kristen dan 2 orang memeluk agama Buddha. Sedangkan sisanya masih mempertahankan tradisi mereka percaya kepada dunia animisme dan dinamisme.
Keberadaan komunitas suku Lom ini sering dikaitkan dengan cerita-cerita mistik suku Lom yang katanya sangat hebat. Cerita yang berkembang di wilayah Bangka Belitung, kalau ada yang sakit, sering dikaitkan dengan “kiriman” dari kampung Mapur. Hal ini biasanya karena suku Lom ini termasuk suku yang agak tertinggal, biasanya dianggap masyarakat sebagai pelaku mistik, santet dan sejenis ilmu-ilmu hitam lainnya. Padahal yang sebenarnya tidaklah seperti itu, karena masyarakat suku Lom adalah masyarakat yang terbuka, dan tidak menolak ataupun menentang kehadiran orang lain di pemukiman mereka. Karena sikap negatif dan pengucilan dari masyarakat lain terhadap mereka inilah yang membuat mereka agak terasing dari masyarakat umum pulau Bangka. Biasanya masyarakat lain di Bangka Belitung enggan untuk menyinggahi kawasan Mapur. Beberapa masyarakat lain di Bangka Belitung, sering melontarkan ucapan seperti ini “hati-hati masuk ke kampung suku Lom. Niat hati harus bersih dan tulus. Kalau hati kotor, bisa celaka, malah tidak bisa keluar lagi”. Demikian pesan banyak orang kepada siapa pun yang akan mengunjungi suku Lom.
Ada beberapa tradisi ilmu mistik pada masyarakat suku Lom, tapi biasanya hanya digunakan untuk pertahanan diri. Salah satu mantra mistik mereka yang terkenal adalah mantra Jirat, yang digunakan untuk menjaga ladang dari pencurian. Ada juga mantra mistik hipnotis untuk menghipnotis orang agar mengakui perbuatan jahat yang telah dilakukannya. Selain itu ada juga mantra Gendam, yang digunakan untuk menjaga kerukunan rumah tangga. Mantra-mantra ini biasanya hanya dimiliki oleh Dukun Adat.
Masyarakat adat suku Lom masih mempercayai dan meyakini roh-roh yang terdapat di alam, yang menguasai benda-benda di sekitar mereka, seperti roh gunung, roh hutan, roh sungai, roh bumi, roh langit dan roh hewan, yang merupakan bagian dari alam semesta yang menyatu dengan roh nenek moyang mereka sehingga harus dihargai. Mereka mempercayai jika setiap bagian dari alam semesta ini mempunyai roh atau kekuatan, yang mana roh-roh tersebut mengawasi manusia dan perbuatannya. Bencana akan menimpa manusia apabila manusia melanggar kekuatan dan keselarasan alam.
Dahulunya suku Lom cenderung menutup diri terhadap budaya luar. Dahulu adat mereka melarang anggota suku untuk menggunakan sandal, jas, jaket atau payung, karena dianggap menyamai gaya dan perilaku para penjajah. Namun sekarang mereka telah terbuka terhadap perkembangan jaman, walaupun sikap kritis terhadap dunia luar tetap dipelihara. Sepanjang sejarah suku Lom, belum ada anggota suku yang terlibat tindakan kriminal. Suku Lom asli sangat menjunjung hukum adat dengan tidak mengganggu orang lain dan alam semesta.
Bahasa Lom termasuk bahasa yang unik, intonasi yang kental dan tempo yang cepat. Bahasa Lom sendiri kadang dimasukkan ke dalam rumpun bahasa Melayu, tetapi bahasa Lom sendiri secara usia jauh lebih tua dari bahasa Melayu pada umumnya, dan jauh berbeda dengan bahasa Melayu yang terdapat di sekitar wilayah pemukiman suku Lom.

contoh nama suku Lom:
Tagtui
Sikat
contoh bahasa Lom:
ika = mereka
nampik = dekat
nen = ini
bu = nasi
maken air = minum.


sumber:

aku1976.blogspot.com
(culture) suku Lom-Mapur yang terasing
baltyra.com
wikipedia
dan sumber lain
Orang Lom

Orang Lom adalah suku asli Melayu Bangka, dengan konsentrasi berdiammya di Bangka Utara, tepatnya di Air Abik dekat Gunung Muda desa saya dan Pejam dekat Belinyu. Walaupun diketahui sebagai Orang Melayu, orang luar tidak banyak mengetahui tentang kehidupan, kebudayaan, dan kepercayaan Orang Lom ini secara persis. Orang Lom pun hidup dengan menutup dirinya dari pengaruh luar, termasuk pengaruh agama, sehingga Lom sendiri akhirnya berarti ‘beLom beragama.’ Dengan kondisi seperti ini memang nampak bahwa Orang Lom adalah suku terasing, tidak tersentuh, dan tidak diketahui banyak. Mereka sering diberi label ‘terbelakang’, ‘Melayu pemakan segala’, dan ‘penuh kekuatan magis.’ Pemberian label seperti ini sebenarnya lebih merupakan stereotip tanpa bukti dan fakta yang jelas. Tapi, bagusnya, bagi Orang Lom ini memberikan mekanisme perlindungan bagi diri dan eksistensi mereka. Orang luar akan segan mendekati apalagi mengganggu kehidupan mereka.
Inilah jadinya yang telah membuat Orang Lom menjadi ‘terjaga’ dari segala pengaruh luar yang dapat merusak tatanan hidup mereka yang sudah terbina sejak puluhan bahkan ratusan tahun. Sementara bagi orang luar ini bisa jadi merupakan kerugian terhadap perkembangan peradaban, bagi mereka ini adalah cara yang paling efektif untuk tetap menjadi diri mereka utuh. Saya pribadi sewaktu SMP tahun 1984 hanya mengenal satu teman dari Orang Lom yang kebetulan bisa sekolah sampai SMP, yang saya masih ingat namanya sebagai ‘Gedoy.’ Tapi saya tidak pernah bertanya macam-macam tentang kehidupannya di luar diskusi pelajaran sekolah secara umum. Seperti anak-anak yang lain, saya pun mendapat pesan dari orang tua untuk berhati-hati dengan Orang Lom dan anak-anaknya yang kami temui, walaupun mereka sudah ‘makan bangku sekolah’ seperti Gedoy di atas.
Penelitian tentang Orang Lom
Pemberian tahun 1984 di atas untuk statistik jumlah penduduk pulau Bangka tahun itu dan nama teman SMP saya ‘Gedoy’ bukanlah tanpa tujuan. Saya bermaksud memberikan tonggak masa lalu terhadap satu titik di masa depan di mana akhirnya saya menemukan fakta jelas tentang kehidupan, kebudayaan, dan kepercayaan Orang Lom. Dan ini adalah bahwa pada tahun 2005 lewat browsing saya menemukan tautan ke penelitian sosio-antroplogi tentang Orang Lom tetangga saya ini yaitu Order and Difference: An Ethnographic Study of Orang Lom of Bangka, West Indonesia oleh Profesor Olaf H. Smedal (1989) yang studi lapangannya beliau lakukan tahun 1983 – 1984. Saya langsung mengirimkan email berikut:
“Dear Mr. Smedal,

I like to search for things on the net: things that I need, things that relate to myself, things about Bill Clinton in connection with Monica Lewinsky (ha…ha…), etc. and things that relate to my village, hometown, Bangka just in case there are articles, etc. about it that I can read and know deeply.

One of the close encounters of the last kind (above, and therefore not of the fourth kind ha…ha…) goes to your online paper concerning orang Lom, Gunung Muda, Air Abik, Bangka, west Indonesia, Indonesia whom I might in a way have a very long long time ago been related to. I find it very resourceful and useful to get to know this orang Lom more.

When I was still in Gunung Muda, Bangka some twenty years ago (now I am working in Bandung, West Java, Indonesia, http://www.geocities.com/ferryaar/intro.html), I only knew (and very much less too) about orang Lom from my beloved mother who at that time happened to be a “storyteller” keen on telling the all-about-our-roots things, one of which is about orang Lom. But you can imagine how little my mother could have told me about it. At that time we very much respected these people not only due to their simple life and strong beliefs, but also to their protectiveness of their mother nature–and this continues to the present time, http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/20/daerah/1762815.htm, http://perpustakaan.menlh.go.id/kbua.php?tgl=2005-05-20&…

Now that I have your online paper or article about those people, I can get to know more about them even from this vast distance. I think I can not thank you enough for that.

Mr. Smedal, I think this is about all I would like to say to you for this time, hoping that you will reply to me so that I can know that you are out there knowing that I have written to you OK?

I thank you for your sincerest attention.

Keep up the good work.

Best regards,

Ferry ‘Fey’ Antoni
http://www.geocities.com/ferryaar/intro.html”

yang beliau segera jawab sbb:

“Dear Ferry

Thank you for your email; yes, I wrote a book on Suku Lom/Mapur that is now no longer available and so I uploaded it to the Internet.

I am at present in Indonesia (though I will not visit Bangka this time) on fieldwork and Internet connections are not very good. I thank you for the interesting information on how the perkebunan sawit ditolak oleh masyarakat. Indeed, I was in Pejam in December 2004 and heard about he plans and many people were highly skeptical. I will be back in Norway in the second week of Sepember. We can communicate again then.

Best wishes,

Olaf S.”

Beliau akhirnya menjadi teman email saya dan kami berkomunikasi beberapa kali sejak itu. Dari buku beliau saya menemukan penelitian lain tentang Orang Lom, khususnya dari sisi sosio-linguistik, yaitu Dialek Melayu Bangka oleh Profesor Bernd Nothofer (1997), yang juga mengangkat bahasa Orang Lom. Karena buku tentang penelitian beliau ini diterbitkan oleh Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia Bangi, saya langsung memesannnya lewat email dan kemudian mereka kirimkan lewat pos.

“Dear Penerbit UKM,

Assalamu’alaikum,

Saya adalah seorang anak Bangka di rantau (Bandung, Jawa Barat, Jawa) yang selalu ingin tahu tentang perkembangan pulau saya walau saya berada jaoh.

Nah, pencarian di internet mengantarkan saya kepada hal-hal yang baru tentang perkembangan pulau saya ini, termasuk penelitian antropologi tentang suku asal Bangka Lom oleh (sekarang temen online saya—saya harap) Olaf H. Smedal, yang di dalamya tersebutlah buku Dialek Melayu Bangka yang ditulis oleh Prof. Bernd Nothofer dari University of Frankfurt dan diterbitkan oleh (jauh-jauh) Universiti Kebangsaan Malaysia tahon 1997.

Pertanyaan saya adalah: apakah buku ini masih ada, terus bagaimana mendapatkannya kalau saya berminat, that is, bolehkah buku itu saya beli via mail biasa (saya bayar, kalau harganya cocok) kemudian bukunya dikirim ke Bandung sini?

Saya tunggu, dan terima kasih atas perhatiannya. Terima kasih pula kepada Mr. Smedal yang telah menulis buku ini di paper onlinenya sehingga saya jadi tahu.

Best regards,

Ferry ‘Fey’ Antoni
http://www.geocities.com/ferryaar/intro.html”

yang mereka jawab:

“Harga buku yang tuan maksudkan masih banyak dalam simpanan Penerbit UKM.  Sekiranya pihak tuan berminat sila hantar bank draf sebanyak Ringgit Malaysia: Dua Puluh Lima Sahaja )RM25.00 termasuk belanja post.  Harga sebenar RM17.50.  Pihak kami akan menghantar buku tersebut setelah menerima bayaran daripada pihak tuan.

Sila sertakan alamat penuh tuan kepada:
Kedai Buku Penerbit UKM
Pusat Penerbitan dan Percetakan
Universiti Kebangsaan Malaysia
43600 UKM Bangi
Selangor D.E.
MALAYSIA

Sekian, terima kasih.

Noraiti Abdul Malek”

Saya juga menemukan karya aspek sosio-linguistik lain tentang Orang Lom yaitu Lom-Indonesian-English & English-Lom wordlists yang masih karya Profesor Smedal (1987) terbitan Lembaga Nusa Jakarta yang juga saya pesan lewat Bapak Profesor Bambang Kaswanti Purwo teman Profesor Smedal dan juga dapatkan.

“Dear Pa Bambang and Mr. Smedal,

I was wondering if Atmajaya still has this title “Lom, Indonesian, English and English-Lom Wordlists, Accompanied by Four Lom Texts [Volume: Vol. 28/29]” http://www.lmp.ucla.edu/Search.aspx?MatID=0&LangID=89 available that I can order. I need it for my better understanding of the language that my, literally, neighbor, Orang Lom speak. To Mr. Smedal, how are you, Sir? It’s good to have a chance to write to you again regarding your research work that we used to discuss some time ago.

Thanking you both for your sincere attention, I’ll look forward to a favorable reply.

Regards,

Ferry Antoni
http://id-id.facebook.com/pages/Ferry-Antoni/206766160456”

yang beliau jawab:

“Yes, we still have the volume you are requesting. I’m at University of Leiden at the moment, for two months, until end of January. I’ll forward this letter to someone at our institute to take care of your order.

Best wishes,

bambang”

Temuan Penting Penelitian tentang Orang Lom

Orang-orang di atas yang email-email komunikasinya sengaja saya tampilkan sangat antusias dalam membantu saya mendapatkan sumber-sumber yang saya perlukan untuk mengetahui akar jati diri penduduk asli pulau saya. Saya berterima kasih atas kebaikan mereka. Karena mereka, saya mempunyai 3 karya di atas yang menjadi sumber utama saya untuk secara pribadi menganalisa, membandingkan, dan menyimpulkan pendapat saya tentang kebudayaan, kepercayaan, dan bahasa Orang Lom.
SUMBER:
http://protomalayans.blogspot.com/2012/09/suku-lom.html?m=1
http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1070/suku-lom
http://nasbat-english.com/2012/12/bahasa-orang-lom/