About Me

Foto saya
Welcome to my blog everyone ♥ I'm a floccinaucinihilipilification But, there's the story began, and being real was me at all

Selasa, 24 Januari 2017

HUKUM DAN PRANATA PEMBANGUNAN : TUGAS V - Peranan Perencanaan Fisik Pembangunan Lingkup Lokal

4 DISTRIBUSI TATA RUANG LINGKUP 

11.    LINGKUP NASIONAL
Kewenangan semua instasi tingkat pemerintahan pusat berada dalam lingkup kepentingan secara sektoral. Perencanaan fisik pada tingkat nasional tidak memepertimbangkan distribusi kegiatan tata ruang secara spesifikasi dan mendetailDepartemen-departemen yang berkaitan adalah yang langsung dengan perencanaan fisik khususnya terkait dengan pengembangan wilayah, antara lain
-       Dep. Pekerjaan Umum
-       Dep. Perhubungan
-       Dep. Perindustrian
-       Dep. Pertanian
-       Dep. Pertambangan


22.    LINGKUP REGIONAL
Instasi yang berwenang dalam perencanaan pembangunan pada tingkat regional di Indonesia adalah pemda tingkat 1 di samping adanya dinas-dinas daerah maupun vertikal, walaupun pertingkat kota dan kabupaten konsistensi sejalan dengan ketentuan rencana pembangunan yang telah di gariskan di atas (tingkat nasional dan regional) daerah tingkat II itu sendiri masih mempunyai ketentuan dalam mengurus perencanaan wilayah sendiri , antara lain
-       Dinas PU (Pekerjaan Umum)
-       DLLAJR
-       Kantor wilayah yang mengkoordinasi adalah BAPPEDA tingkat 1 di setiap provinsi.

33.    LINGKUP LOKAL
Tingkat kodya atau kabupaten biasanya seperti di bebankan kepada dinas-dinas berdasarkan Kepres NO.27 Tahun 1980 untuk BAPPEDA tingkat II,  misalnya :
-       Dinas PU
-       Dinas Tata Kota
-       Dinas Kebersihan
-       Dinas Pengawasan Pembangunan Kota
-       Dinas Kesehatan
-       Dinas PDAM

44.    LINGKUP SEKTOR SWASTA
Lingkup swasta dulu hanya sebatas pada skala perencanaan pembangunan perumahan, jaringan utilitas, dan pusat perbelanjaan. Akan tetapi sekarang semakin positif yang menjadi indikator untuk memicu diri bagi instansi pemerintahan maupun BUMN, sehingga persaingan yang muncul menjadi tolak ukur bagi tiap-tiap kompetitor swasta dan pemerintah dan berdampak pada peningkatan kualitas layanan atau produk.

Contoh studi kasus peranan perencanaan fisik pembangunan di lingkup lokal :

Kali Krukut yang Hidup Kembali di Kalimati


Abdullah Wo (51) menikmati sore di area parkir Rumah Susun Karet Tengsin di kawasan Kampung Kalimati, Kelurahan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Jumat (13/1). Kicauan burung-burung dalam sangkar yang banyak digantung di situ mengisi semilir segar angin dari arah Kali Krukut di sebelah tempat parkir tersebut.



KOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUMGang di sepanjang bantaran Kali Krukut, bagian dari aliran Kali Krukut lama di Jalan Karet Pasar Baru, Kelurahan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Jumat (13/1), kini lebih tertata, bersih dari sampah dan nyaman.
Sore itu, air Kali Krukut mengalir tenang dan lancar, berwarna kecoklatan, tetapi tanpa sampah. Lebar kali di kawasan itu 15-20 meter. Di tengah cuaca yang jarang hujan pada Januari ini, permukaan airnya tak terlalu tinggi sehingga dinding batu kali terlihat hingga lebih dari 5 meter di atas muka air.
Padahal, tak jauh dari sana, di kawasan Kampung Bali dan sepanjang aliran di Kelurahan Kebon Melati, Krukut enggan bergerak di tengah desakan rumah yang memadati bibirnya. Lebarnya tak lebih dari 3-5 meter dan sarat dengan sampah rumah tangga, berjejalan di airnya yang kehitaman. Saluran air limbah rumah tangga mengalir ke sana. Aroma tak sedap pun membuat semilir angin sore tak lagi segar.
Para petugas Unit Pelaksana Kebersihan (UPK) Badan Air Suku Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Jakarta Pusat harus bekerja keras membersihkan sampah di ruas itu. Lepas dari perkampungan padat itu, ruas Kali Krukut lama dari Kampung Kalimati tersebut mulai tertata baik.
Kali Krukut di sini pernah dinormalisasi pada era Gubernur DKI Ali Sadikin sekitar akhir 1970 dan awal 1980. Selanjutnya, pada era Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, pembersihan sampah padat dilakukan secara masif. Hasilnya mulai terlihat, Kali Krukut mulai nyaman buat mencari angin bagi warga sekitarnya.
Selama ratusan tahun, perubahan terus terjadi di aliran Krukut lama yang berawal dari Pintu Air Karet, masuk ke saluran Cideng dan Kali Besar, hingga bermuara di Pintu Air Pasar Ikan, Jakarta Utara, itu.
Abdullah Wo, warga asli Betawi yang lahir dan besar di Kampung Kalimati, mengisahkan, sebelum adanya pelurusan Kali Krukut, kawasan itu pada era 1970-an merupakan rawa-rawa seluas sekitar 8 hektar. Sumber airnya berasal dari anak Kali Krukut yang kemudian buntu di sana sehingga menggenangi cekungan itu. ”Makanya kampung ini namanya Kalimati karena dulu ada kali yang mati di sini,” katanya.
Kawasan itu, ujar Abdullah, hingga akhir 1970-an masih sepi dan hanya berisi rumpun-rumpun pohon alemot dan kirai. Memasuki tahun 1983, seiring dengan alur Krukut lama yang dinormalisasi, kawasan itu mulai kering karena tak ada lagi anak sungai yang buntu di sana. Jalan-jalan dibangun, permukiman pun padat hingga sekarang.
Sekarang, kawasan yang masuk area Kalimati itu mencakup wilayah RT 010 dan RT 006 RW 007 Kelurahan Karet Tengsin. ”Sekarang udah banyak pendatang. Sedikit-sedikit orang datang, mulai diuruk, terus diuruk sampai penuh seperti sekarang,” katanya.
Sebelum menjadi Jalan Karet Pasar Baru Barat 1, gang tempat Rusun Karet Tengsin itu pernah diberi nama Jalan Haji Abdul Latief, pernah juga menjadi Gang Kubur dan Gang Buaya. Disebut Gang Buaya karena dulu di daerah itu, kata Abdullah, juga pernah ada penangkaran buaya. Pada 1980-an, buaya yang diternakkan di sana diambil kulitnya untuk digunakan dalam produksi tas di Karet Tengsin.
Rahayu (54), pemulung dari Kebon Melati yang rajin menyusuri Kali Krukut lama hingga hafal aliran-alirannya, masih ingat betapa seram bantaran Krukut dari Kebon Melati hingga Tanah Abang sebelum ramai seperti sekarang. ”Di sini dulu sampai terkenal istilah ’kalau masuk sini tinggal nama’. Masih gelap, rumput tinggi-tinggi, dan banyak orang jahat,” ujarnya.
Asal nama
Nama Krukut sendiri hingga kini belum diketahui secara pasti asal-usulnya. Ada beberapa versi mengenai asal nama Krukut itu.
Versi pertama, ”krukut” merupakan ucapan warga pribumi untuk melafalkan kata kerkhof, kata dalam bahasa Belanda yang berarti ’makam’. Aliran Krukut memang melalui banyak pemakaman, terutama di kawasan Karet dan Tanah Abang.
Selain itu, ”krukut” juga merupakan sebutan orang Betawi bagi orang-orang Arab yang hingga kini masih banyak tinggal di Kelurahan Krukut. Warga pribumi menjulukinya dengan Arab Krukut.
Versi lain, sebagaimana kisah Abdullah Wo, juga merupakan sebutan orang Betawi atas sungai yang berkelok-kelok.
Dulunya, di Jalan Melati, tepatnya di lokasi Kantor Urusan Agama Kecamatan Tanah Abang saat ini, merupakan gundukan tanah di tengah aliran sungai yang melingkar.
Pulau kecil itu, menurut Haji Amirullah Ayub (76), warga asli Betawi di Kelurahan Karet Tengsin, sering menjadi tempat anak-anak bermain dan memandikan kuda. Kuda-kuda milik para saudagar saat itu banyak dipercayakan kepada anak-anak untuk dimandikan.
”Namanya anak kecil, yang penting, kan, mainnya, seneng- seneng. Kalau banjir, pulau kecil itu tenggelam,” kenang pria yang akrab disapa Yoyok itu.
Namun, kemudian aliran sungai yang berkelok-kelok itu dibuat lurus sehingga tempat yang sebelumnya menjadi tempat air menjadi mengering.
Kampung Kalimati itu hingga kini masih sering kebanjiran karena letaknya yang lebih rendah daripada aliran Kali Krukut. Jika ketinggian air Krukut naik, air dari Kampung Kalimati tidak bisa masuk ke sungai. Namun, di daerah ini, Kali Krukut sudah tertata baik. Selain dipasangi sheet pile, juga terdapat jalan inspeksi sekaligus jalan bagi warga kampung

SUMBER :
http://noviaclarabianca.blogspot.co.id/2013/01/peranan-perencanaan-fisik-pembangunan.html
http://print.kompas.com/baca/metropolitan/2017/01/24/Kali-Krukut-yang-Hidup-Kembali-di-Kalimati
https://ginadamar.wordpress.com/2014/12/01/perencanaan-fisik-pembangunan/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar